Pages

Kamis, 24 Maret 2011

Hidup Itu Anugerah


Hidup, ya... hidup adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Tak bisa kau bayar dengan uang bermiliyar-miliyar banyaknya atau kau bandingkan dengan emas dan semua hartamu yang serba lux. Kehidupan hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang dapat berikan, tak ada yang lain keculi Ia. Kita semua tahu, kehidupan yang dianugerahkan-Nya hanya sekali di dunia ini, selanjutnya kita akan mendapatkan kehidupan yang kekal abadi setelah kita meninggalkan dunia ini.

Dalam hidup ini kita berperan sebagai Khalifah alias pemimpin. Tentu saja semua harus dimulai dari memimpin diri sendiri. Dalam hidup yang kita jalani, kita temukan banyak sesuatu. Entah itu konflik, kebahagiaan, kesedihaan dan sebagainya dan semua itu berjalan seperti sebuah cerita yang telah diskenario karena hidup kita juga berjalan melalui takdir yang telah ditentukan-Nya seakan seperti sebuah skenario cerita.

Terkadang kita mengalami dan merasakan yang namanya kebahagiaan, seketika kita bisa tersenyum manis ataupun tertawa. Hati pun menjadi lega rasanya dan kita merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Tapi, tentu kita juga mengalami yang namanya kesedihan, kita menjadi murung, untuk tersenyum manis dan ikhlas sedikit saja tak mampu, tubuh tak berdaya dan seakan menjadi orang paling malang sedunia. Ya, hidup kita terombang-ambing, seperti ombak yang kadang naik dan kadang surut, seperti cabang-cabang pohon, serta jalan yang penuh liku.

Kita hidup di dunia juga tidak sendiri, ada banyak sekali makhluk hidup yang juga hidup di dunia ini. Tentunya kita tak bisa selalu menjadi makhluk individu, kita dituntut untuk juga menjadi makhluk sosial. Tapi, tak jarang kita temukan manusia yang merasa dirinya hebat dan tak butuh bantuan manusia lain, yang tak peduli pada manusia yang lain, dan kita tahu itu namanya egois dan sok. Ya, seakan dunia ini hanyalah miliknya.

Teman, terkadang kita hidup di dunia ini juga tak mensyukuri apa yang telah diberi. Kita tak sanggup untuk menghadapi segala halang rintang dan cobaan yang terus menghujam diri kita. Sakit rasanya, seperti jatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap. Tak sanggup lagi untuk meneruskan hidup, dan jalan terakhir yang terpikirkan adalah bunuh diri. Sebenarnya bunuh diri itu tak akan menyelesaikan masalah. Mungkin di dunia memang tak merasakannya lagi, tapi bagaimana di akhirat? Apa sudah lolos? Apa sudah menghembuskan nafas lega? Sadarlah, itu malah menambah parah keadaan! Manusia yang baik akan ikhlas dan berusaha menghadapi cobaan itu sekuat mungkin, karena itu adalah bagian dari kehidupan, karena setelahnya pasti kebahagiaan datang menghampiri kita.

Teman, hidup adalah anugerah, hidup itu indah. Entah itu baik atau buruk, tapi ingatlah! Seburuk-buruknya hidup kita juga pasti punya sisi positif. Hidup kita itu seimbang, jadi gak selamanya bahagia karena disaat kita bahagia itu hanya bagian dari hidup dan selanjutnya pasti merasakan kesedihan dan itu namanya cobaan. Perlu kita ketahui, jalani hidup ini sebaik mungkin. Jangan menyerah dan patah semangat seperti sampah yang terombang-ambing di lautan, terbawa ombak tak berdaya seakan sudah menyerah pada nasib. Kita harus kuat, jangan pernah takut untuk jalani hidup. Tetaplah semangat, teruslah beribadah, teruslah belajar, dan teruslah berkarya, selama kamu masih bisa bernafas, selama kamu masih bisa melakukan hal yang positif, selama itulah kamu bisa isi hari-harimu dengan sesuatu yang indah. :)



Putri Kartika Sari

Sabtu, 12 Maret 2011

Ketika Kita Menjadi Orang Miskin Hati

Miskin? Ya, miskin yang saya maksud bukanlah miskin harta melainkan miskin hati. Maksudnya miskin hati itu seperti apa? Kalau miskin materi atau harta kan biasanya kita gak punya apa-apa kayak mereka yang tinggal di rumah gedongan, kita gak punya mobil, gak punya rumah bagus, duit melimpah hanya impian, belanja ini itu juga hanya diangan saja. Lalu, miskin hati? Maksud dari miskin hati adalah hati kita dangkal, dangkal akan pikiran, dangkal akan perasaan peduli. Sebenarnya orang yang mengidap penyakit miskin hati itu udah ada sejak zaman dulu. Biasanya adalah mereka yang sombong dan merasa hebat, tidak mau memandang ke bawah, maunya ataaasss terus sampai lama-lama leher ini menjadi sakit, hehe...

Di dunia ini kita tak hanya hidup sendiri, kita ini selain makhluk individu juga makhluk sosial. Kita hidup berdampingan dengan orang lain. Pikir secara logika, mana bisa manusia hidup sendiri, pasti sehebat-hebatnya orang juga bakal perlu bantuan orang lain. Contoh yang sederhana saja, orang jika sakit pasti perlu bantuan orang lain untuk mengobatinya dan orang itu adalah dokter, bayangkan jika di dunia ini tak ada seorangpun dokter atau orang yang mau menyembuhkan orang lain, pasti bakalan repot jadinya. Nah, sayangnya orang yang miskin hati ini tidak menerapkan hal ini! Mereka gak peduli kalau mereka berdampingan dengan orang lain, mereka cuek bebek ketika bertemu orang yang lebih rendah darinya jika diukur lewat materi, ketika orang lain membutuhkan belas kasihan dan amal mereka orang miskin hati hanya melenggang kangkung tanpa peduli, rasanya kayak udah mati rasa!

Contoh orang miskin hati, mati rasa, lihat ia melanggar peraturan yang tertulis di spanduk, sama sekali gk malu


Orang mengendarai kendaraan, eh tiba-tiba menabrak orang! Orang yang menabrak tersebut ketakutan lalu melarikan diri dengan kendaraannya dan biasa disebut tabrak lari. Nah, ini udah termasuk miskin hati, mati rasa. Bayangkan, ia menabrak orang lain dan hal ini sudah termasuk kewajibannya untuk menolong orang yang ditabrak. Tapi, ia malah lari dari tanggung jawab, gak peduli, gak mikir bagaimana nasib orang yang ditabraknya nanti, bagaimana keluarganya nanti dan sebagainya.


Orang miskin hati alias egois bagaikan bayangan hitam yang berjalan sendiri di lorong sepi yang gelap tanpa penerangan


Kembali kita jelaskan ke yang sangat sederhana. Jika kita melihat seonggok sampah di jalan, apa yang akan kita lakukan pada sampah tersebut walau hanya berupa bungkus coklat? Apa kita biarkan? Jalan terus melenggang kangkung cuek bebek yang penting bukan urusan? Itu salah teman! Harusnya jika kita peduli, ayolah luangkan waktu sedikit saja, ambil sampah tersebut dan buanglah pada tempatnya, jika kamu benar-benar peduli lingkungan. Tangan menjadi kotor? Namanya juga amal pasti harus ikhlas, kan nanti bisa cuci tangan, entah pakai air kemasan atau dari air keran jika ketemu, tapi bukan keran rumah orang loh!

Kembali kita renungkan, bagaimana jadinya kalau kita miskin hati? Gak peduli orang lain? Berdiri sendiri seenaknya? Gak mau membagi ilmu pada orang lain? Lalu kalau kita seperti itu, apa iya orang lain mau menerima kita? Apa iya orang lain mau membantu kita dikemudian hari? Apa iya hidup kita akan bahagia dunia dan akhirat? Jawabannya tidak! Mengapa? Karena kita egois! Gak sadar hati kalau kita ini manusia biasa! Gak sadar kalau kita hidup dikelilingi oleh orang-orang! Lalu, tentu saja kita tak akan bahagia selamanya jika tak mengubah penyakit kita yang satu ini. Tenang dunk, miskin hati bukan penyakit langka yang sulit disembuhkan yang gak ada obatnya, pertama jika kau ingin sembuhkan adalah niatmu untuk berubah menjadi baik! Selanjutnya ikhtiar atau berusaha, Insya Allah kita semua menjadi orang yang dapat menjadi rahmat bagi yang lain. =)


Kita ambil contoh gambar dari sebuah cover buku, beginilah jadinya kalau kita tidak miskin hati, maka orang lain juga akan menghargai kita



Putri Kartika Sari

Kamis, 10 Maret 2011

Love, What Do You Know About It?

Cinta, mungkin memang agak gimana gitu membicarakan masalah yang satu ini. Mungkin kalian mengira ini terkesan lebay dan sok romantis. Hei, cinta bukan sekedar romantis. Kalian mungkin mengartikan cinta adalah bagian dari kasih sayang, ya kasih sayang. Banyak orang rela berkorban demi cinta, cinta itu membius mereka melakukan hal yang sebenarnya harus mereka tempuh dengan perjuangan.

Orang mengatakan cinta pada orang yang mereka sayangi, pada orang yang mereka cintai. Apalagi anak muda zaman sekarang, mereka dengan bangga mengespresikan rasa cinta mereka pada seseorang, biasanya pada orang yang mereka anggap spesial. Tapi, tahukah kau? Terkadang apa yang mereka dapatkan bukanlah cinta sesungguhnya, itu hanya nafsu! Ia mengatakan cinta dan memperlakukan kita bagai Ratu maupun Raja. Berusaha merebut hati kita, segala upaya dilakukannya sehingga membuat kita terbuai. Akhirnya jatuh dalam perangkap cinta yang dibuatnya. Tapi, itu hanya sementara, entah kenapa selanjutnya orang yang berhasil dibuatnya terbuai ini dicampakkan begitu saja.

Menikah, ya! Mungkin terdengar ekstrim bagi yang masih muda dan belum waktunya memasuki jenjang ini, begitu pula dengan saya. Menikah didasarkan atas nama cinta dan takdir. Tapi, pasangan yang telah terikat oleh janji, seperti suami istri yang awalnya memiliki hubungan harmonis, bisa saja rasa itu memudar. Entah karena apa, mungkin bosan, mungkin cintanya tak tulus, mungkin juga karena bukan jodohnya. Selanjutnya, perselingkuhan pun terjadi, pertengkaran rumah tangga pun terjadi. Jalan yang mereka pilih pun adalah perceraian. Cinta yang dulu mereka gembor-gemborkan, tiba-tiba hilang tertutup kabut malam, tertiup angin, terhempas ombak seakan sama sekali tak berharga.

Sesungguhnya, cinta tak hanya melihat dari fisik semata. Tapi dari hati. Cinta tak bisa diucapkan lewat kata-kata, tapi disampaikan lewat hati. Mendapatkan cinta yang benar-benar tulus itu memang tak semudah membalikkan tangan. Biasanya, orang-orang yang menerima kita apa adanya lah yang terkadang bisa memberikan kita cinta yang tulus. Kau mungkin tak dapatkan cinta tulus dari seorang pacar, karena hubungan seperti pacaran itu hanya nafsu! Sama sekali tak sah! Hanya permainan cinta yang kemudian bisa saja kalah telak lalu hilang begitu saja. Untuk apa mengharapkan cinta yang benar-benar tulus dari seorang pacar? Itu sama sekali tak menjanjikan. Bodoh sekali jika mengharapkannya tapi ternyata ia memang bukanlah jodohmu. Ketahuilah, kau inginkan cinta yang tulus? Kau inginkan cinta itu abadi selamanya untukmu? Kau tahu siapa yang dapat berikan itu semua? Jawabannya cukup sederhana. Tuhanmu, Allah bagi umat islam dan Tuhan bagi mereka yang beragama lain. Orang tuamu, keluargamu, saudaramu, orang yang ditakdirkan Tuhan untuk bersamamu yaitu orang yang kelak akan menjadi pasangan hidupmu, dan  tentu saja terkadang guru pun juga. Mereka semua berikan yang terbaik buatmu! Tapi, mengapa terkadang kita semua lupa akan hal itu?! Terlena oleh hingar bingar dunia? Melupakan cinta sejati? Belajarlah untuk mensyukuri sesuatu, dan ingatlah sesuatu. Cintailah orang lain jika ingin dicintai. =)











Putri Kartika Sari

Kamis, 24 Maret 2011

Hidup Itu Anugerah


Hidup, ya... hidup adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Tak bisa kau bayar dengan uang bermiliyar-miliyar banyaknya atau kau bandingkan dengan emas dan semua hartamu yang serba lux. Kehidupan hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang dapat berikan, tak ada yang lain keculi Ia. Kita semua tahu, kehidupan yang dianugerahkan-Nya hanya sekali di dunia ini, selanjutnya kita akan mendapatkan kehidupan yang kekal abadi setelah kita meninggalkan dunia ini.

Dalam hidup ini kita berperan sebagai Khalifah alias pemimpin. Tentu saja semua harus dimulai dari memimpin diri sendiri. Dalam hidup yang kita jalani, kita temukan banyak sesuatu. Entah itu konflik, kebahagiaan, kesedihaan dan sebagainya dan semua itu berjalan seperti sebuah cerita yang telah diskenario karena hidup kita juga berjalan melalui takdir yang telah ditentukan-Nya seakan seperti sebuah skenario cerita.

Terkadang kita mengalami dan merasakan yang namanya kebahagiaan, seketika kita bisa tersenyum manis ataupun tertawa. Hati pun menjadi lega rasanya dan kita merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Tapi, tentu kita juga mengalami yang namanya kesedihan, kita menjadi murung, untuk tersenyum manis dan ikhlas sedikit saja tak mampu, tubuh tak berdaya dan seakan menjadi orang paling malang sedunia. Ya, hidup kita terombang-ambing, seperti ombak yang kadang naik dan kadang surut, seperti cabang-cabang pohon, serta jalan yang penuh liku.

Kita hidup di dunia juga tidak sendiri, ada banyak sekali makhluk hidup yang juga hidup di dunia ini. Tentunya kita tak bisa selalu menjadi makhluk individu, kita dituntut untuk juga menjadi makhluk sosial. Tapi, tak jarang kita temukan manusia yang merasa dirinya hebat dan tak butuh bantuan manusia lain, yang tak peduli pada manusia yang lain, dan kita tahu itu namanya egois dan sok. Ya, seakan dunia ini hanyalah miliknya.

Teman, terkadang kita hidup di dunia ini juga tak mensyukuri apa yang telah diberi. Kita tak sanggup untuk menghadapi segala halang rintang dan cobaan yang terus menghujam diri kita. Sakit rasanya, seperti jatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap. Tak sanggup lagi untuk meneruskan hidup, dan jalan terakhir yang terpikirkan adalah bunuh diri. Sebenarnya bunuh diri itu tak akan menyelesaikan masalah. Mungkin di dunia memang tak merasakannya lagi, tapi bagaimana di akhirat? Apa sudah lolos? Apa sudah menghembuskan nafas lega? Sadarlah, itu malah menambah parah keadaan! Manusia yang baik akan ikhlas dan berusaha menghadapi cobaan itu sekuat mungkin, karena itu adalah bagian dari kehidupan, karena setelahnya pasti kebahagiaan datang menghampiri kita.

Teman, hidup adalah anugerah, hidup itu indah. Entah itu baik atau buruk, tapi ingatlah! Seburuk-buruknya hidup kita juga pasti punya sisi positif. Hidup kita itu seimbang, jadi gak selamanya bahagia karena disaat kita bahagia itu hanya bagian dari hidup dan selanjutnya pasti merasakan kesedihan dan itu namanya cobaan. Perlu kita ketahui, jalani hidup ini sebaik mungkin. Jangan menyerah dan patah semangat seperti sampah yang terombang-ambing di lautan, terbawa ombak tak berdaya seakan sudah menyerah pada nasib. Kita harus kuat, jangan pernah takut untuk jalani hidup. Tetaplah semangat, teruslah beribadah, teruslah belajar, dan teruslah berkarya, selama kamu masih bisa bernafas, selama kamu masih bisa melakukan hal yang positif, selama itulah kamu bisa isi hari-harimu dengan sesuatu yang indah. :)



Putri Kartika Sari

Sabtu, 12 Maret 2011

Ketika Kita Menjadi Orang Miskin Hati

Miskin? Ya, miskin yang saya maksud bukanlah miskin harta melainkan miskin hati. Maksudnya miskin hati itu seperti apa? Kalau miskin materi atau harta kan biasanya kita gak punya apa-apa kayak mereka yang tinggal di rumah gedongan, kita gak punya mobil, gak punya rumah bagus, duit melimpah hanya impian, belanja ini itu juga hanya diangan saja. Lalu, miskin hati? Maksud dari miskin hati adalah hati kita dangkal, dangkal akan pikiran, dangkal akan perasaan peduli. Sebenarnya orang yang mengidap penyakit miskin hati itu udah ada sejak zaman dulu. Biasanya adalah mereka yang sombong dan merasa hebat, tidak mau memandang ke bawah, maunya ataaasss terus sampai lama-lama leher ini menjadi sakit, hehe...

Di dunia ini kita tak hanya hidup sendiri, kita ini selain makhluk individu juga makhluk sosial. Kita hidup berdampingan dengan orang lain. Pikir secara logika, mana bisa manusia hidup sendiri, pasti sehebat-hebatnya orang juga bakal perlu bantuan orang lain. Contoh yang sederhana saja, orang jika sakit pasti perlu bantuan orang lain untuk mengobatinya dan orang itu adalah dokter, bayangkan jika di dunia ini tak ada seorangpun dokter atau orang yang mau menyembuhkan orang lain, pasti bakalan repot jadinya. Nah, sayangnya orang yang miskin hati ini tidak menerapkan hal ini! Mereka gak peduli kalau mereka berdampingan dengan orang lain, mereka cuek bebek ketika bertemu orang yang lebih rendah darinya jika diukur lewat materi, ketika orang lain membutuhkan belas kasihan dan amal mereka orang miskin hati hanya melenggang kangkung tanpa peduli, rasanya kayak udah mati rasa!

Contoh orang miskin hati, mati rasa, lihat ia melanggar peraturan yang tertulis di spanduk, sama sekali gk malu


Orang mengendarai kendaraan, eh tiba-tiba menabrak orang! Orang yang menabrak tersebut ketakutan lalu melarikan diri dengan kendaraannya dan biasa disebut tabrak lari. Nah, ini udah termasuk miskin hati, mati rasa. Bayangkan, ia menabrak orang lain dan hal ini sudah termasuk kewajibannya untuk menolong orang yang ditabrak. Tapi, ia malah lari dari tanggung jawab, gak peduli, gak mikir bagaimana nasib orang yang ditabraknya nanti, bagaimana keluarganya nanti dan sebagainya.


Orang miskin hati alias egois bagaikan bayangan hitam yang berjalan sendiri di lorong sepi yang gelap tanpa penerangan


Kembali kita jelaskan ke yang sangat sederhana. Jika kita melihat seonggok sampah di jalan, apa yang akan kita lakukan pada sampah tersebut walau hanya berupa bungkus coklat? Apa kita biarkan? Jalan terus melenggang kangkung cuek bebek yang penting bukan urusan? Itu salah teman! Harusnya jika kita peduli, ayolah luangkan waktu sedikit saja, ambil sampah tersebut dan buanglah pada tempatnya, jika kamu benar-benar peduli lingkungan. Tangan menjadi kotor? Namanya juga amal pasti harus ikhlas, kan nanti bisa cuci tangan, entah pakai air kemasan atau dari air keran jika ketemu, tapi bukan keran rumah orang loh!

Kembali kita renungkan, bagaimana jadinya kalau kita miskin hati? Gak peduli orang lain? Berdiri sendiri seenaknya? Gak mau membagi ilmu pada orang lain? Lalu kalau kita seperti itu, apa iya orang lain mau menerima kita? Apa iya orang lain mau membantu kita dikemudian hari? Apa iya hidup kita akan bahagia dunia dan akhirat? Jawabannya tidak! Mengapa? Karena kita egois! Gak sadar hati kalau kita ini manusia biasa! Gak sadar kalau kita hidup dikelilingi oleh orang-orang! Lalu, tentu saja kita tak akan bahagia selamanya jika tak mengubah penyakit kita yang satu ini. Tenang dunk, miskin hati bukan penyakit langka yang sulit disembuhkan yang gak ada obatnya, pertama jika kau ingin sembuhkan adalah niatmu untuk berubah menjadi baik! Selanjutnya ikhtiar atau berusaha, Insya Allah kita semua menjadi orang yang dapat menjadi rahmat bagi yang lain. =)


Kita ambil contoh gambar dari sebuah cover buku, beginilah jadinya kalau kita tidak miskin hati, maka orang lain juga akan menghargai kita



Putri Kartika Sari

Kamis, 10 Maret 2011

Love, What Do You Know About It?

Cinta, mungkin memang agak gimana gitu membicarakan masalah yang satu ini. Mungkin kalian mengira ini terkesan lebay dan sok romantis. Hei, cinta bukan sekedar romantis. Kalian mungkin mengartikan cinta adalah bagian dari kasih sayang, ya kasih sayang. Banyak orang rela berkorban demi cinta, cinta itu membius mereka melakukan hal yang sebenarnya harus mereka tempuh dengan perjuangan.

Orang mengatakan cinta pada orang yang mereka sayangi, pada orang yang mereka cintai. Apalagi anak muda zaman sekarang, mereka dengan bangga mengespresikan rasa cinta mereka pada seseorang, biasanya pada orang yang mereka anggap spesial. Tapi, tahukah kau? Terkadang apa yang mereka dapatkan bukanlah cinta sesungguhnya, itu hanya nafsu! Ia mengatakan cinta dan memperlakukan kita bagai Ratu maupun Raja. Berusaha merebut hati kita, segala upaya dilakukannya sehingga membuat kita terbuai. Akhirnya jatuh dalam perangkap cinta yang dibuatnya. Tapi, itu hanya sementara, entah kenapa selanjutnya orang yang berhasil dibuatnya terbuai ini dicampakkan begitu saja.

Menikah, ya! Mungkin terdengar ekstrim bagi yang masih muda dan belum waktunya memasuki jenjang ini, begitu pula dengan saya. Menikah didasarkan atas nama cinta dan takdir. Tapi, pasangan yang telah terikat oleh janji, seperti suami istri yang awalnya memiliki hubungan harmonis, bisa saja rasa itu memudar. Entah karena apa, mungkin bosan, mungkin cintanya tak tulus, mungkin juga karena bukan jodohnya. Selanjutnya, perselingkuhan pun terjadi, pertengkaran rumah tangga pun terjadi. Jalan yang mereka pilih pun adalah perceraian. Cinta yang dulu mereka gembor-gemborkan, tiba-tiba hilang tertutup kabut malam, tertiup angin, terhempas ombak seakan sama sekali tak berharga.

Sesungguhnya, cinta tak hanya melihat dari fisik semata. Tapi dari hati. Cinta tak bisa diucapkan lewat kata-kata, tapi disampaikan lewat hati. Mendapatkan cinta yang benar-benar tulus itu memang tak semudah membalikkan tangan. Biasanya, orang-orang yang menerima kita apa adanya lah yang terkadang bisa memberikan kita cinta yang tulus. Kau mungkin tak dapatkan cinta tulus dari seorang pacar, karena hubungan seperti pacaran itu hanya nafsu! Sama sekali tak sah! Hanya permainan cinta yang kemudian bisa saja kalah telak lalu hilang begitu saja. Untuk apa mengharapkan cinta yang benar-benar tulus dari seorang pacar? Itu sama sekali tak menjanjikan. Bodoh sekali jika mengharapkannya tapi ternyata ia memang bukanlah jodohmu. Ketahuilah, kau inginkan cinta yang tulus? Kau inginkan cinta itu abadi selamanya untukmu? Kau tahu siapa yang dapat berikan itu semua? Jawabannya cukup sederhana. Tuhanmu, Allah bagi umat islam dan Tuhan bagi mereka yang beragama lain. Orang tuamu, keluargamu, saudaramu, orang yang ditakdirkan Tuhan untuk bersamamu yaitu orang yang kelak akan menjadi pasangan hidupmu, dan  tentu saja terkadang guru pun juga. Mereka semua berikan yang terbaik buatmu! Tapi, mengapa terkadang kita semua lupa akan hal itu?! Terlena oleh hingar bingar dunia? Melupakan cinta sejati? Belajarlah untuk mensyukuri sesuatu, dan ingatlah sesuatu. Cintailah orang lain jika ingin dicintai. =)











Putri Kartika Sari
 

Template by BloggerCandy.com