Sabtu, 24 Agustus 2013
Jilbab
Panas... Gerah... Tak nyaman...
Rasa yang terus menusuk
Dalam pikiran dan hati
Tanpa sadar berpikir
Ah, ini penyiksaan
Minder... Kampungan
Membayang-bayang
Tatkala melihat cermin
Penampilan kuno
Tanpa sadar berpikir
Huh, ketinggalan zaman
Harus menutup ini
Harus menutup itu
Tak boleh begini
Tak boleh begitu
Lagi-lagi berpikir
Ini mengekang hak asasi manusia
Jilbab...
Sayang sekali Kau diremehkan
Mereka hanya belum sadar
Betapa berharganya Kau
Panas? Kampungan?
Mereka hanya tak tahu
Panasnya neraka
Nikmatnya surga
Sabtu, 29 September 2012
Gadis Penjual Koran
Terik menyengat tubuhku
Peluh tak terhenti Bergelut dengan waktu
Hanya untuk menanti
Seorang gadis penjual koran
Mendekap koran di dadanya
Menggema suara lantang
Ia jajakan korannya
Apakah aku tersentuh?
Apakah aku kasihan?
Tanganku merogoh Menukar dengan koran
Seorang gadis berkerudung
Senyum tersulam indah
Doa syukur gadis berkerudung
Hatiku tergoyah
Gadis penjual koran itu...
Gadis berkerudung itu...
Pernahkah aku bersyukur?
Pernahkah kudoakan orang lain?
By : Putri Kartika Sari, Eda Christiyadi Putry, Khasna Nur Fauziah
Ini adalah puisi yang sangat sederhana yang menjadi tugas pelajaran Bahasa Indonesia kelompok saya. Saya tahu puisi yang saya buat bersama kedua teman saya ini tidak memiliki diksi atau pilihan kata yang indah layaknya puisi-puisi hebat para sastrawan. Tapi kami berusaha membuat puisi yang bagus. Walau dengan kata-kata yang sederhana tapi punya makna yang dalam. Gadis penjual koran, mungkin kalian pernah melihat sosok gadis seperti ini di jalan atau di perempatan lampu lalu lintas.
Pernah gak kalian melihat sosok gadis penjual koran berkerudung? Begitu pula hatinya? Oke, mungkin kita gak bisa langsung tahu bagaimana sifat gadis tersebut walau ia berkerudung. Tapi kadang hanya sekilas saja kita sudah tahu sisi baik seseorang. Ketika kita membeli korannya, memberikan uang seperti apa pun niat kita. Kadang kita tidak menyangka bahwa apa yang kita beri padanya itu sangat berharga. Bahkan bisa sampai membuat mereka berkaca-kaca, mengucapkan syukur, dan mendoakan kita. Mungkin itu terlihat berlebihan untuk kita, tapi bukankah itu sangat menyentuh? Padahal koran yang kita beli dari mereka tidak seberapa. Mungkin hanya sekitar Rp 1000 atau 2000. Tapi mereka begitu menghargainya. Dan saat itu muncullah sesuatu dalam benak kita. Suatu tanda tanya atau mungkin penyesalan. Apakah kita pernah bersyukur mengenai apa pun yang kita dapat walau hanya hal kecil? Pernahkah kita berdoa untuk orang yang telah menolong kita dalam kebaikan walau hanya pertolongan kecil? Pelajaran berharga bisa kita dapatkan kapan saja dan dimana saja. Kadang secara tersurat dan kadang tersirat. Saat itu cobalah untuk menghargai hidup. Kita semua (︶ω︶)
Jumat, 13 Juli 2012
Harapan
Pernah gak sih kalian mengikuti ujian dan menginginkan nilai yang bagus? Pernah gak kalian menabung untuk membeli barang yang diinginkan? Pernah gak kalian memberi bantuan kepada anak yatim dengan harapan mereka bisa hidup lebih baik? Ya, pasti pernah. Mungkin tidak dalam kegiatan yang saya sebutkan barusan. Tetapi dengan kegiatan lain. Berharap, ya itulah yang kita lakukan dalam setiap kegiatan. Harapan itu seperti tujuan. Dan tentunya harapan yang baik, bukan seperti harapan agar orang lain celaka.
Setiap orang punya impian, harapan, cita-cita, maupun keinginan. Baik itu untuk diri sendiri ataupun orang lain. Setiap orang bekerja keras untuk bisa mewujudkan harapan mereka. Begitu besarnya kobaran api yang ada di dalam diri mereka. Api semangat.
Cara licik, cara haram tak luput pula dari usaha untuk mencapai harapan. Mereka yang putus asa, tidak kuat akan mencari jalan pintas. Pikiran kotor mulai merasuki mereka. Egois mulai menyelimuti diri mereka. Hanya untuk memenuhi harapan pribadi.
Harapan yang sangat sia-sia dan tidak berguna. Kalimat tersebut tepat sekali ditujukan untuk orang yang mencapainya dengan cara kotor. Harapan itu tidak ada artinya hanya gara-gara menggunakan cara yang salah. Kalian pasti berpikir untuk apa bersusah-susah mencapai harapan dengan cara yang tidak baik? Kalian tidak akan merasakan kebanggaan dan kebahagiaan yang sebenarnya. Hanya terpenuhi nafsu saja. Lalu bagaimana dengan mereka yang mencapainya dengan kerja keras dan tanpa cara kotor? Tentu mereka merasa lebih susah. Mereka merasakan lebih banyak pahit dan asam. Namun, kebahagiaan dan kebanggaan mereka jauh lebih besar. Ketika harapan telah dicapai, semua rasa pahit dan asam yang mereka alami hilang begitu saja. Senyum dan tawa pun menghiasi wajah mereka.
Jika kita adalah orang yang bijaksana, tentu kita tahu mana yang harus kita pilih. Banyak jalan untuk mewujudkan harapan. Tapi hanya ada satu jalan yang benar, jalan yang dilandaskan dengan kegiatan positif dan doa. \( ^o^ )/
SEMANGAT!!!
Setiap orang punya impian, harapan, cita-cita, maupun keinginan. Baik itu untuk diri sendiri ataupun orang lain. Setiap orang bekerja keras untuk bisa mewujudkan harapan mereka. Begitu besarnya kobaran api yang ada di dalam diri mereka. Api semangat.
Cara licik, cara haram tak luput pula dari usaha untuk mencapai harapan. Mereka yang putus asa, tidak kuat akan mencari jalan pintas. Pikiran kotor mulai merasuki mereka. Egois mulai menyelimuti diri mereka. Hanya untuk memenuhi harapan pribadi.
Harapan yang sangat sia-sia dan tidak berguna. Kalimat tersebut tepat sekali ditujukan untuk orang yang mencapainya dengan cara kotor. Harapan itu tidak ada artinya hanya gara-gara menggunakan cara yang salah. Kalian pasti berpikir untuk apa bersusah-susah mencapai harapan dengan cara yang tidak baik? Kalian tidak akan merasakan kebanggaan dan kebahagiaan yang sebenarnya. Hanya terpenuhi nafsu saja. Lalu bagaimana dengan mereka yang mencapainya dengan kerja keras dan tanpa cara kotor? Tentu mereka merasa lebih susah. Mereka merasakan lebih banyak pahit dan asam. Namun, kebahagiaan dan kebanggaan mereka jauh lebih besar. Ketika harapan telah dicapai, semua rasa pahit dan asam yang mereka alami hilang begitu saja. Senyum dan tawa pun menghiasi wajah mereka.
Jika kita adalah orang yang bijaksana, tentu kita tahu mana yang harus kita pilih. Banyak jalan untuk mewujudkan harapan. Tapi hanya ada satu jalan yang benar, jalan yang dilandaskan dengan kegiatan positif dan doa. \( ^o^ )/
SEMANGAT!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
Sabtu, 24 Agustus 2013
Jilbab
Panas... Gerah... Tak nyaman...
Rasa yang terus menusuk
Dalam pikiran dan hati
Tanpa sadar berpikir
Ah, ini penyiksaan
Minder... Kampungan
Membayang-bayang
Tatkala melihat cermin
Penampilan kuno
Tanpa sadar berpikir
Huh, ketinggalan zaman
Harus menutup ini
Harus menutup itu
Tak boleh begini
Tak boleh begitu
Lagi-lagi berpikir
Ini mengekang hak asasi manusia
Jilbab...
Sayang sekali Kau diremehkan
Mereka hanya belum sadar
Betapa berharganya Kau
Panas? Kampungan?
Mereka hanya tak tahu
Panasnya neraka
Nikmatnya surga
Sabtu, 29 September 2012
Gadis Penjual Koran
Terik menyengat tubuhku
Peluh tak terhenti Bergelut dengan waktu
Hanya untuk menanti
Seorang gadis penjual koran
Mendekap koran di dadanya
Menggema suara lantang
Ia jajakan korannya
Apakah aku tersentuh?
Apakah aku kasihan?
Tanganku merogoh Menukar dengan koran
Seorang gadis berkerudung
Senyum tersulam indah
Doa syukur gadis berkerudung
Hatiku tergoyah
Gadis penjual koran itu...
Gadis berkerudung itu...
Pernahkah aku bersyukur?
Pernahkah kudoakan orang lain?
By : Putri Kartika Sari, Eda Christiyadi Putry, Khasna Nur Fauziah
Ini adalah puisi yang sangat sederhana yang menjadi tugas pelajaran Bahasa Indonesia kelompok saya. Saya tahu puisi yang saya buat bersama kedua teman saya ini tidak memiliki diksi atau pilihan kata yang indah layaknya puisi-puisi hebat para sastrawan. Tapi kami berusaha membuat puisi yang bagus. Walau dengan kata-kata yang sederhana tapi punya makna yang dalam. Gadis penjual koran, mungkin kalian pernah melihat sosok gadis seperti ini di jalan atau di perempatan lampu lalu lintas.
Pernah gak kalian melihat sosok gadis penjual koran berkerudung? Begitu pula hatinya? Oke, mungkin kita gak bisa langsung tahu bagaimana sifat gadis tersebut walau ia berkerudung. Tapi kadang hanya sekilas saja kita sudah tahu sisi baik seseorang. Ketika kita membeli korannya, memberikan uang seperti apa pun niat kita. Kadang kita tidak menyangka bahwa apa yang kita beri padanya itu sangat berharga. Bahkan bisa sampai membuat mereka berkaca-kaca, mengucapkan syukur, dan mendoakan kita. Mungkin itu terlihat berlebihan untuk kita, tapi bukankah itu sangat menyentuh? Padahal koran yang kita beli dari mereka tidak seberapa. Mungkin hanya sekitar Rp 1000 atau 2000. Tapi mereka begitu menghargainya. Dan saat itu muncullah sesuatu dalam benak kita. Suatu tanda tanya atau mungkin penyesalan. Apakah kita pernah bersyukur mengenai apa pun yang kita dapat walau hanya hal kecil? Pernahkah kita berdoa untuk orang yang telah menolong kita dalam kebaikan walau hanya pertolongan kecil? Pelajaran berharga bisa kita dapatkan kapan saja dan dimana saja. Kadang secara tersurat dan kadang tersirat. Saat itu cobalah untuk menghargai hidup. Kita semua (︶ω︶)
Jumat, 13 Juli 2012
Harapan
Pernah gak sih kalian mengikuti ujian dan menginginkan nilai yang bagus? Pernah gak kalian menabung untuk membeli barang yang diinginkan? Pernah gak kalian memberi bantuan kepada anak yatim dengan harapan mereka bisa hidup lebih baik? Ya, pasti pernah. Mungkin tidak dalam kegiatan yang saya sebutkan barusan. Tetapi dengan kegiatan lain. Berharap, ya itulah yang kita lakukan dalam setiap kegiatan. Harapan itu seperti tujuan. Dan tentunya harapan yang baik, bukan seperti harapan agar orang lain celaka.
Setiap orang punya impian, harapan, cita-cita, maupun keinginan. Baik itu untuk diri sendiri ataupun orang lain. Setiap orang bekerja keras untuk bisa mewujudkan harapan mereka. Begitu besarnya kobaran api yang ada di dalam diri mereka. Api semangat.
Cara licik, cara haram tak luput pula dari usaha untuk mencapai harapan. Mereka yang putus asa, tidak kuat akan mencari jalan pintas. Pikiran kotor mulai merasuki mereka. Egois mulai menyelimuti diri mereka. Hanya untuk memenuhi harapan pribadi.
Harapan yang sangat sia-sia dan tidak berguna. Kalimat tersebut tepat sekali ditujukan untuk orang yang mencapainya dengan cara kotor. Harapan itu tidak ada artinya hanya gara-gara menggunakan cara yang salah. Kalian pasti berpikir untuk apa bersusah-susah mencapai harapan dengan cara yang tidak baik? Kalian tidak akan merasakan kebanggaan dan kebahagiaan yang sebenarnya. Hanya terpenuhi nafsu saja. Lalu bagaimana dengan mereka yang mencapainya dengan kerja keras dan tanpa cara kotor? Tentu mereka merasa lebih susah. Mereka merasakan lebih banyak pahit dan asam. Namun, kebahagiaan dan kebanggaan mereka jauh lebih besar. Ketika harapan telah dicapai, semua rasa pahit dan asam yang mereka alami hilang begitu saja. Senyum dan tawa pun menghiasi wajah mereka.
Jika kita adalah orang yang bijaksana, tentu kita tahu mana yang harus kita pilih. Banyak jalan untuk mewujudkan harapan. Tapi hanya ada satu jalan yang benar, jalan yang dilandaskan dengan kegiatan positif dan doa. \( ^o^ )/
SEMANGAT!!!
Setiap orang punya impian, harapan, cita-cita, maupun keinginan. Baik itu untuk diri sendiri ataupun orang lain. Setiap orang bekerja keras untuk bisa mewujudkan harapan mereka. Begitu besarnya kobaran api yang ada di dalam diri mereka. Api semangat.
Cara licik, cara haram tak luput pula dari usaha untuk mencapai harapan. Mereka yang putus asa, tidak kuat akan mencari jalan pintas. Pikiran kotor mulai merasuki mereka. Egois mulai menyelimuti diri mereka. Hanya untuk memenuhi harapan pribadi.
Harapan yang sangat sia-sia dan tidak berguna. Kalimat tersebut tepat sekali ditujukan untuk orang yang mencapainya dengan cara kotor. Harapan itu tidak ada artinya hanya gara-gara menggunakan cara yang salah. Kalian pasti berpikir untuk apa bersusah-susah mencapai harapan dengan cara yang tidak baik? Kalian tidak akan merasakan kebanggaan dan kebahagiaan yang sebenarnya. Hanya terpenuhi nafsu saja. Lalu bagaimana dengan mereka yang mencapainya dengan kerja keras dan tanpa cara kotor? Tentu mereka merasa lebih susah. Mereka merasakan lebih banyak pahit dan asam. Namun, kebahagiaan dan kebanggaan mereka jauh lebih besar. Ketika harapan telah dicapai, semua rasa pahit dan asam yang mereka alami hilang begitu saja. Senyum dan tawa pun menghiasi wajah mereka.
Jika kita adalah orang yang bijaksana, tentu kita tahu mana yang harus kita pilih. Banyak jalan untuk mewujudkan harapan. Tapi hanya ada satu jalan yang benar, jalan yang dilandaskan dengan kegiatan positif dan doa. \( ^o^ )/
SEMANGAT!!!
Langganan:
Postingan (Atom)



